JADILAH PENERIMA DAN PEMBAWA DAMAI
Renungan Hari Minggu, 09 JULI 2023, Masa Biasa
Pekan XIV
Zak. 9:9-10; Rom. 8:9.11-13; Mat.11:25-30
JADILAH PENERIMA DAN PEMBAWA DAMAI
Saudara-saudariku terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kenyataan sosial kita di dalam dunia ini selalu ada dua sisi kehidupan
yang selalu bersinggungan. Ada perang – ada damai; ada dukacita – ada sukacita;
ada kesedihan – ada kegembiraan; ada tangisan air mata – ada tawaria; ada kematian
– ada kelahiran/kehidupan. Mengapa situasi ini mesti terjadi?
Bacaan-bacaan suci hari ini menghantar kita untuk memahami tentang arti “damai”.
Damai adalah sebuah situasi yang membawa ketenteraman dan kenyamanan batin bagi
hidup orang pribadi maupun dalam kebersamaan (damai secara individu dan kelompok,
bersama). Namun ada perbedaan antara damai yang diberikan Allah dan damai yang
diciptakan manusia.
Damai dari Allah.
Kitab Zakharia dalam bacaan pertama menunjukkan kepada kita bahwa Raja
Damai adalah seorang yang memberikan kedamaian itu. Dalam iman kita, raja damai
yang dimaksud adalah Kristus sendiri. Oleh sebab itu di dalam injil hari ini
kita mendengar Sabda Yesus, “Belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut
dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Rasa tenang atau
damai adalah anugerah dari Yesus bagi
para murid yang mengikuti jejak-Nya.
Jejak seperti apakah yang harus dipelajari oleh seorang murid Kristus, oleh
setiap kita orang kristiani, Supaya kita dapat memperoleh ketenangan batin dan kedamaian jiwa?
Jejak Kristus yakni Salib. Setiap murid dan pengikut Kristus yang ingin
memperoleh damai dan ketenangan jiwa harus belajar untuk memikul ‘kuk’. Para petani
tradisional dahulu biasanya memasang kuk pada leher kerbau atau sapi untuk
menarik bajak ketika ia membajak sawahnya. Nah ‘kuk’ yang diberikan Yesus
kepada kita para pengikut-Nya adalah hukum dan ajaran-Nya. Hukum kasih dan
pengampunan yang sering mudah dikatakan, namun sulit dilaksanakan. Hal ini
butuh pengorbanan dan penyerahan diri yang total. Itulah ‘kuk dan beban’ yang
dimaksudkan oleh Yesus. Itulah “salib” yang telah dipanggul oleh Yesus sendiri.
Inilah damai sejati yang dapat kita peroleh dan kita bagikan. Kita menjadi
penerima damai dan sekaligus menjadi pembawa damai.
Damai dari manusia.
Berbeda dengan damai yang diciptakan manusia. Saat ini banyak pihak
berinisiasi untuk menciptakan perdamaian di Ukraina dan Rusia. Ada usaha
gencatan senjata. Pasukan Perdamaian Garuda Indonesia setiap tahun dikirim ke
Timur Tengah, Lebanon, Irak, Iran, dan wilayah-wilayah yang sedang dilanda
peperangan. Tujuannya hanya satu agar perang dihentikan dan suasana damai
terjadi. Apakah ‘damai’ di sana sungguh
ada? Jawabannya “MUNGKIN”. Mengapa? Karena damai yang diciptakan di sana adalah
damai atas dasar rasa takut kepada penguasa dan pemenang. Suasana damai yang
masih penuh dengan kecurigaan dan kecemasan, ada was-was dan tidak bebas. Ada berbagai
persyaratan dan ancaman sanksi. Damai yang ‘semu’.
Kita butuh Rahmat dan berkat Allah untuk “damai”.
Kenyataan sosial dalam keseharian kita. Ada kesulitan ekonomi rumah
tangga (keluarga), masalah Kesehatan, biaya Pendidikan anak yang tidak
tertanggungkan, tekanan adat dan budaya yang membelenggu, situasi politik yang
ambang, lingkungan yang tidak nyaman, dan sebagainya; semuanya itu membuat kita
merasa putus asa dan merasa letih berjalan di medan hidup ini. Ada yang kalut,
lalu ambil jalan pintas ‘bunuh diri’. Ada yang menjadi ‘gila’, stress. Semua kesulitan
itu membuat kita merasa tidak mampu untuk memikulnya lagi. Nah, justru pada
situasi seperti inilah kita sebagai para murid Kristus, kita diajak oleh Yesus
untuk datang kepada-Nya dan menimba kekuatan daripada-Nya. Kekuatan ‘rohani’
hanya dapat diperoleh ketika kita menjalin relasi, komunikasi, hubungan erat
dan akrab dengan Yesus sendiri. Sebab jika kita dekat dan akrab dengan Yesus,
maka kekuatan Yesus dalam “memanggul” salib-Nya, turut memperkuat kita untuk
memanggul salib kita; bahkan salib kita akan diambil alih oleh Yesus sendiri.
Oleh sebab itu, Ketika kita mengalami beban hidup yang berat, janganlah kita
menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, dalam situasi sulit itulah kita semakin
mengakrabkan diri dengan Tuhan, jadikanlah Tuhan sebagai tempat “curhat” kita
yang aman, melalui doa dan Ekaristi. Dengan Doa dan Ekaristi, kita memperoleh
kekuatan Rohani yang dahsyat untuk “memikul” beban hidup ini. Banyak kesaksian
dari orang-orang beriman, termasuk umat kita, mengenai hal ini.
Kedahsyatan kekuatan doa dan Ekaristi serta keintiman relasi kita dengan
Tuhan, mengantar kita untuk semakin dewasa dan matang dalam menghadapi beban
hidup kita. Kedewasaan dan kematangan itu terungkap dalam sikap lemah lembut
dan rendah hati. Kita tidak lagi menjadi pribadi yang suka mempersalahkan orang
lain sebagai penyebab atas beban hidup kita. Kita tidak menjadikan sesama sebagai
“kambing hitam” biang kerok penderitaan kita. Akan tetapi kita dengan lemah
lembut mau menerima beban hidup kita dan menyadari bahwa itulah bagian hidup
kita yang tidak terelakkan. Kita mesti dengan hati tulus mau menghadapi dan
menyelesaikan/mengatasinya. Dengan demikian kita pun mengakui keterbatasan diri
kita sebagai manusia, kita bukanlah manusia ‘super’. Tidak semua hal kita
selesaikan dengan kemampuan kita sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk membantu.
Terutama kita membutuhkan Rahmat dan uluran berkat Tuhan dalam menghadapi
segala beban hidup kita.
Ketika kita memiliki kekuatan Rohani dan kematangan iman dalam “memikul”
beban hidup ini, maka kita akan merasakan ‘damai’. Kita merasakan ketenangan
batin sebab Tuhan memampukan kita menyelesaikan masalah dan beban hidup kita
satu demi satu dari waktu ke waktu. Pada momentum seperti ini, kita pun hanya
bisa bersyukur. Bersyukur sebab Tuhan sudah ‘campur tangan’ dengan Rahmat dan
berkat-Nya pada saat yang tepat untuk mengeluarkan kita dari jeratan kesulitan
hidup kita. Kita pun merasakan damai dan sukacita bersama Allah yang menyertai
perjalanan hidup kita. Kehadiran Yesus, Putera Allah, adalah wujud nyata
pemberian kasih Bapa yang menyertai dan mengangkat beban hidup kita. Allah yang
kita Imani adalah Allah yang rela menderita demi umat-Nya dan membawa damai
sejati bagi kita orang beriman. Oleh sebab itu, kita mesti siapkan hati dan
seluruh diri kita untuk menjadi “PENERIMA DAN PEMBAWA DAMAI” bagi dunia.
Semoga kita senantiasa dilindungi, dibimbing dan diberkati oleh Allah Tritunggal
Mahakudus: Bapa + dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Salam dan berkat,
Pastor Paroki EKUKARDO,
P. Kris Sambu SVD
Komentar
Posting Komentar