Postingan

EKARISTI SAKRAMEN CINTAKASIH. BERILAH AKU MINUM!

  PERAYAAN MALAM KAMIS PUTIH Kamis, 06 April 2023 Kel. 12:1-8.11-14;   1Kor.11:23-26;   Yoh.13:1-15   EKARISTI SAKRAMEN CINTAKASIH BERILAH AKU MINUM!   Yesus baru saja selesai membasuh kaki para murid-Nya. Dan Ia bertanya, apakah mereka mengerti akan semua yang telah dilakukan itu? Yesus berpesan agar mereka meneladani apa yang telah Ia tunjukkan yaitu hendaknya para murid saling mengasihi dan saling melayani. Perayaan hari Kamis Putih atau yang lazim disebut Perayaan Perjamuan Terakhir antara Yesus dan para murid-Nya mempunyai dua kata kunci yang sangat kuat menggugah hati kita para beriman, yakni kata “mengasihi” dan “melayani” . Kedua kata kunci ini merupakan kesimpulan dari seluruh hidup dan karya Yesus yang telah dilakukan-Nya selama hidup-Nya. Yesus telah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa terhadap manusia yang berdosa, yang sakit dan lapar, yang tersingkir dan terpinggirkan, yang lemah dan tak berdaya, yang disiksa dan mati. Tindakan k...

BUKAN AKU, YA TUHAN?

 Renungan Hari Rabu Pekan Suci,      05 April 2023 Yes. 50:4-9a; Mat. 26:14-25 Penderitaan hamba Yahwe yang dilukiskan oleh nabi Yesaya terpenuhi dalam diri Yesus, Hamba Allah. Siksaan, deraan, pukulan dan ludahan Hamba Yahwe dialami lebih sadis oleh Yesus ketika Dia harus alami pengkhianatan dari orang dekat-Nya, yakni murid-Nya sendiri. Murid yang dipercayai sebagai bendahara untuk mengatur kesejahteraan banyak orang, justru dengan segala kelicikan menjual Samg Guru. Agak klasik pertanyaan pertanyaan yang bersifat pura-pura 'bukan aku, ya Tuhan?' masih terjadi sampai dewasa ini. Ada banyak bentuk  dan cara untuk mengelabui sesama, orangtua, suami, isteri, anak, atasan, bawahan, sahabat,..... "bukan aku, ya Tuhan". Marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar memberikan pencerahan bagi hati nurani kita untuk berbalik kepada Jalan Tuhan, sekalipun itu adalah Jalan Salib.  Salam dan berkat,  Pastor Paroki EKUKARDO,  P. Kris Sambu SVD 

MUSUH DALAM SELIMUT

 Renungan Hari Selasa Pekan Suci,   04 April 2023 Yes. 49:1-6;  Yoh. 13:21-33.36-38 Ada istilah klasik musuh dalam selimut atau duri dalam daging. Ungkapan ini hendak mengatakan bahwa yang menjadi pengkhianat, perusak, penghancur nama baik, karier, usaha, dan sebagainya justru orang dekat. Orang dekat itu mungkin anggota keluarga, anggota komunitas, sahabat dan kerabat, anggota kelompok organisasi tertentu.  Fenomena serupa terjadi dalsm tubuh Gereja, ada sekian banyak kisah pengkhianatan seperti itu. Mulai dengan anti-klerikal, menjelekkan nama baik Gereja dengan segala kisahnya, sampai mengkhianati iman dan meninggalkan imannya. Itulah yang sudah pernah terjadi juga dalam komunitas para Rasul bersama Yesus Sang Guru. Ada kiat-kiat pembelaan seperti Petrus, namun pada saat krusial Yesus diadli justru Petrus menyembunyikan diri dan menyangkal Sang Guru. Dan lebih fatal adalah perbuatan Yudas Iskariot yang silau dengan sejumlah uang. Yesus dijual.  Dalam mer...

SELARAS PIKIRAN ALLAH

 Renungan Hari Senin, 03-04-2023      Hari Biasa Pekan Suci Yes. 42:1-7; Yoh. 12:1-11 Nampak pikiran bagus sekali dari Yudas Iskariot yang merasa prihatin dan peduli dengan orang orang miskin. Oleh sebab itu dia merasa sebuah kesia-siaan ketika Maria menghabiskan uang untuk membeli minyak wangi narwastu dengan harga mahal yang dipakai meminyaki kaki Yesus. Ada tujuan dan niat hati masing-masing.  Yudas Iskariot dari mulutnya keluar kata-kata kepedulian dan keberpihakan kepada orang-orang miskin, sakit, dan menderita. Namun hatinya sarat dengan rancangan kejahatan untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan yang diperoleh. Pikiran Yudas Iskariot sesungguhnya ungkapan kelicikan dan egoisme yang tinggi, dengan bertopeng pada penderitaan sesama. Pikirannya tidak selaras dengan pikiran Allah.  Maria memberi rasa hormat yang tinggi terhadap Yesus sebagai ungkapan rasa syukur yang tidak berhingga atas kasih setia Tuhan terhadap dirinya,saudarinya Marta dan s...

PAHLAWAN ATAU PENGKHIANAT

 HARI MINGGU PALMA, 02-04-2023 MENGENANG SENGSARA TUHAN       Yes. 50:4-7; Fil. 2:6-11;Mat.26:14-27:66 Gereja merayakan Hari Minggu Palma, mengenangkan sengsara Yesus, Sang Raja Semesta Alam. Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja bukan untuk menguasainya melainkan untuk membebaskan dan menyucikan kota itu. Yesus adalah Raja dari keturunan Daud, Dia disambut dengan gegap gempita oleh seluruh rakyat karena keselamatan telah tiba. Yerusalem yang sudah lama dihuni oleh para pendosa dan penjahat, kini dibaharui, disucikan oleh sengsara, wafat dan kebangkitan-Mu.  Yerusalem ibarat hati kita umat beriman yang masih penuh noda dosa dan kejahatan. Maka ketika kita menyambut Yesus Sang Raja, berarti kita membuka hati kita, membiarkan Sang Raja masuk dan menyucikan serta membebaskan kita dari berbagai bentuk dosa dan kejahatan.  Kisah Sengsara Yesus berawal dari taman Getzemani sampai Kalvari menjadi drama tontonan bagi orang banyak dan juga bagi para murid yang ...

BERKORBAN BAGI SEMUA ORANG

 Renungan Hari Sabtu, 01-04-2023      Hari Biasa Pekan   V   Pra-paskah        Yeh. 37:21-28;  Yoh. 11:45-56 Nubuat Yehezkiel mengenai penyatuan kembali bangsa Israel yang sudah tercerai-berai akan terwujud oleh intervensi Allah sendiri. Ia akan membaharui perjanjian-Nya dengan umat-Nya untuk saling setia. Allah setia mengashi dan mengampuni umat-Nya sekalipun mereka berulang kali jatuh dalam dosa dan mengingkari perjanjian dengan Allah. Inilah kebesaran Kasih Allah yang tidak tertandingi.  Kebesaran Kasih Allah terwujud sepenuhnya di dalam diri Yesus Kristus yang rela mati untuk mempersatukan kembali bangsa-Nya yang tercerai berai, bahkan bukan hanya bangsa Israel, melainkan semua bangsa manusia yang menaruh kepercayaan kepada firman-Nya.  Sebagaimana dinubuatkan oleh Imam Besar Kayafas bahwa Yesus aksn mati demi kesatuan seluruh bangsa, hendak mengungkapkan aspek universalitas misi Yesus. Yesus mati bukan hanya...

KUSERAHKAN PERKARAKU KEPADA TUHAN

 Renungan   Hari  Jumat, 31-03-2023 Hari Biasa Pekan V   Pra-paskah     Yer. 20: 10-13;   Yoh. 10: 31-42    Yeremia terancam karena warta kenabiannya ditolak oleh para musuhnya. Para sahabatnya juga menjauh. Para lawan merancang sebuah strategi untuk menjerat Yeremia. Ia tidak gentar sebab ia percaya kepada Tuhan sebagai pelindung dan perisai dirinya. Yeremia dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan yang memgutusnya pasti akan melindungi dan menyelamatkan dirinya dari berbagai ancaman dan cobaan. "Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku." begitu doa Yeremia.  Doa Yeremia dan keyakinan imannya mestinya menjadi doa dan keyakinan iman kita orang kristiani. Tuhan-lah perisai dan gunung batu kita. Mengapa kita takut, jika kita melakukan hal yang benar?  Pengalaman Yesus pun serupa dengan Yeremia. Ketertutupan hati orang-orang Yahudi yang tidak mau mendengar dan memahami ajaran Yesus, membuat mereka menjadi  nekat untuk meraj...