JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP UNTUK MELAYANI

 

 Renungan Hari Minggu Paskah V,  07 Mei 2023

Kis. 6:1-7; 1Ptr. 2:4-9;  Yoh. 14:1-12

JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP UNTUK MELAYANI

 Suatu Ketika seorang Ketua Wilayah dalam sebuah paroki bercurhat kepada pastor parokinya. “Saya sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi Ketua Wilayah Romo. Setiap kali diadakan pergantian kepengurusan, umat di wilayah itu selalu bilang, ‘Pokoknya engkau kami angkat seumur hidup sebagai Ketua Wilayah’. Saya tidak tahu, apakah sungguh mereka mendukung saya dalam pelayanan ini, ataukah mereka hanya membebaskan diri dari tugas ‘sukarela’ ini? Ketika ditawarkan kepada mereka yang lain, jawabannya selalu bilang ‘Nanti dulu. Kalau saya pensiun, akan saya terima tugas itu. Atau kalau saya sudah tidak lagi sibuk, pasti saya akan terima, ….”

Lalu pastor parokinya menjawab dengan santai, “Iya itu tanda anda kerja baik, dipercayai oleh umat. Kita harus berpikir positif seperti itu. Tapi kalau kita agak negative berpikir, mungkin benar juga kalau yang lain tidak suka melayani dengan cara seperti ini, sebab berbeda dengan tugas sebagai lurah, kepala desa, atau sebagai Ketua RT. Di sana ada insentif dan bahkan gaji lumayan besar. Tambahan lagi kalau ada proyek-proyek ke desa/kelurahan, bisa cubit-cubit sedikit, paling tidak manfaatkan tanda tangan.”

“Betul romo, tidak salah juga yang romo katakan itu. Tapi saya coba menikmati saja dengan tugas gerejani ini.” Kata Ketua Wilayah itu.

“Syukurlah kalau anda menikmati tugas itu dan menikmatinya sebagai bagian pelayanan. Saya kira anda sudah mendapatkan upah yang tidak pernah dilihat oleh seorangpun, karena tidak berwujud material ataupun uang. Itulah yang disebut BERKAT Tuhan buat anda dan keluarga. Hidup sehat, keluarga rukun, anak-anak masih bisa sekolah, dan sebagainya. Jika orang bekerja dengan tulus dan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, berkat yang tidak kelihatan akan diperolehnya.” Kata pastor memberikan peneguhan.

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul pada hari Minggu Paskah V ini mengisahkan tentang kegelisahan umat dan para rasul. Jumlah umat semakin banyak. Pelayanan terhadap umat semakin terbelangkalai. Para rasul merasa sangat bersalah dengan situasi semacam ini. Maka untuk mengatasi situasi ini, para rasul memanggil semua murid berkumpul dan membicarakan masalah tersebut. Solusinya adalah dari antara para murid (Pengikut Kristus) dipilih tujuh orang untuk membantu para rasul itu, “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh serta hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, sehingga kami sendiri dapat memusatkan pikiran pada doa dan pada tugas pelayanan firman.”

Jadi tugas pelayanan itu tidak dibebankan kepada para rasul saja, tetapi para murid atau semua pengikut Kristus mendapat tugas yang serupa. Umat atau para murid itu sendiri yang memilih dari antara mereka.

Situasi Gereja Para Rasul atau sering dikenal Gereja Perdana masih sangat relevan dengan situasi Gereja dewasa ini. Gereja dewasa ini sudah sangat terbuka untuk melibatkan umat Allah (seluruh anggota Gereja) untuk terlibat dan berpartisipasi dalam seluruh karya pelayanan gerejani. Sesungguhnya bentuk nyata yang sudah kita hidupi sampai saat ini, dengan adanya pembentukan KBG-KBG (Komunitas Basis Gerejawi). Pada sel-sel atau kelompok-kelompok kecil seperti inilah pelayanan lebih dirasakan, semua umat merasa disapa, dan semua orang melibatkan diri di dalamnya dengan tugas masing-masing. Ada yang menjadi Ketua KBG dan Pengurusnya; ada yang menjadi pemandu katekese, ada yang bisa melayani melalui nyanyian dan lagu-lagu (dirigen, organis, …). Ada juga yang bergerak di bidang sosial karitatif: pelayanan orang sakit, kerja bakti, kaum muda dengan segala aktifitasnya. Singkatnya, semua pelayanan pastoral menjadi tanggung jawab umat beriman Bersama. Seperti para rasul focus pada pelayanan meja dan firman, itulah yang dimaksudkan dengan pelayana Sakramen ada pada tanggung jawab imam, sebagai pelayan tertahbis. Sedangkan umat Allah sebagai pelayan terbaptis mengambil bagian dalam tugas pelayanan pastoral lainnya. Dengan demikian, kita semakin menyadari akan panggilan kita untuk terlibat dalam misi Gereja.

Misi Gereja adalah misi umat Allah yang tertebus. Gereja melanjutkan Misi Kristus dalam karya penebusan dunia. Sehingga Ketika Gereja terlibat dalam karya pastoral, sesungguhnya ia telah terlibat Bersama Kristus untuk melakukan atau memberikan pelayanan yang sama seperti Kristus sendiri. Yesus sendiri sudah memberikan jaminan bahwa bagi orang yang terlibat dalam hidup dan karya-Nya akan memperoleh jaminan tempat tinggal di dalam Kerajaan-Nya. Oleh sebab itu janganlah gelisah akan ketiadaan tempat tinggal, kehidupan yang abadi. Sebab Yesus tahu kalau para murid-Nya gelisah akan tempat tinggal, karena Yesus pernah berkata, “Burung mempunya sarang, serigala mempunyai liang, akan tetapi Anak Manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Wajarlah jika para murid gelisah. Tetapi itu adalah kegelisahan duniawi. Yesus memberikan jaminan abadi.

Selain itu, Yesus meyakinkan para pengikut-Nya bahwa apa yang Dia katakana dan lakukan, bukan atas kemauan diri-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Oleh sebab itu, misi Yesus adalah misi Bapa-Nya; misi kita adalah misi Yesus. Maka benarlah jika Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP. Jika kita sudah memilih Jalan Yesus berarti kita sudah memilih hal yang benar. Jika kita sudah memilih hal yang benar, maka kita pun memiliki Hidup. Jika kita mempertahankan Jalan, Kebenaran dan Hidup itu, maka kita harus mutlak ambil bagian di dalam karya pelayanan Yesus di tengah dunia.

Jika kita membuka hati dan budi kita, dan menyadari akan panggilan kita sebagai anggota Gereja, maka kita pun tidak akan mengeluh atau mencari-cari alasan untuk tidak terlibat dalam karya pelayanan pastoral kita baik di tingkat Dewan Paroki, Tingkat Wilayah maupun di tingkat KBG. Kita pun tidak akan mengeluh jika kita harus berkorban dan terlibat dalam usaha membangun kemandirian hidup ber-Gereja: personalia dan keuangan. Dan satu hal lagi yang pasti kita tidak akan bertanya, “Apa yang Gereja berikan kepada saya? Tetapi kita akan berkata dan bertanya diri, apa yang saya berikan kepada Gereja?” Sebab Gereja adalah saya dan anda, kita semua umat Allah yang sedang berziarah menuju kediaman abadi yang disediakan Yesus bagi kita.   

Marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar kita mampu menghayati pesan Yesus pada hari ini, untuk megikuti Dia yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup untuk melayani di tengah keluarga dan komunitas kita, paroki dan masyarakat serta  dunia semesta alam.

Tuhan memberkati.

 

Salam dan berkat,

Pastor Paroki EKUKARDO,

P. Kris Sambu, SVD

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDUSKANLAH HARI TUHAN

KASIH ALLAH MELAMPAUI SEGALA SESUATU

KRISTUS CAHAYA DUNIA