IMAN AKAN ALLAH YANG HIDUP
Renungan Minggu Biasa XXXII, 30
Oktober 2022
2Mak. 7:1-2.9-14; 2Tes. 2:16-3:5; Luk. 20:27-38
IMAN AKAN ALLAH YANG HIDUP
Gereja merayakan hari Minggu Biasa
XXXII hari ini dengan suguhan Sabda Tuhan untuk direnungkan adalah mengenai
misteri KEMATIAN DAN KEBANGKITAN. Merenungkan peristiwa kematian mendesak kita
untuk sungguh-sungguh mengimani rahasia karya penyelamatan Allah dalam diri
Yesus Kristus. Yesus pernah menderita, wafat dan bangkit dengan jaya. Ini merupakan
sebuah karya cinta kasih Allah yang mengagumkan yang sekaligus membawa harapan
baru bagi setiap orang beriman.
Yesus secara tegas mengatakan hal itu
di depan para Saduki yang mempertanyakan hal kebangkitan orang-orang mati,
bahwa Allah yang disembah oleh bangsa Israel adalah Allah Abraham, Allah Ishak,
dan Allah Yakub. Dia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab
di hadapan Dia semua orang hidup. Mengimani Allah orang hidup tentu membuat
hidup kita bermakna, kita merasa diteguhkan sebab iman kita tidaklah sia-sia
belaka. Dengan demikian kita akan menerima dan menghadapi hidup kita ini dengan
penuh rasa syukur, kita akan memelihara hidup kita dengan tekun, kita akan
merawat dan mengembangkan hidup kita ini dengan sebuah pengabdian yang total
sehingga sesama dan dunia sekitar kita pun merasakan nilai dan makna hidup kita
itu. Teladan hidup yang nyata dalam keseharian merupakan ungkapan iman kita.
Jika kita sungguh percaya akan warta kebangkitan yang dibawa oleh Yesus
sendiri, maka kita pasti mampu melewati segala rasa takut yang menghantui diri
kita. Kita akan berusaha untuk hidup secara benar sesuai ajaran iman katolik yang
benar pula. Dalam kenyataan sering kali kita ada yang mudah menyerah, memilih
jalan ‘lain’ karena cemas akan sesuap nasi di dunia ini tumpah; kita
lebih mudah bersekongkol demi kenyamanan jabatan dan kuasa; kita menjadi orang
yang tidak beridentitas karena iman kita menjadi ‘abu-abu’. Sikap seperti
ini membuat iman kita menjadi tidak otentik. Originalitas keimanan kita patut
dipertanyakan. Kita kehilangan prinsip dan pegangan hidup yakni iman kita,
sebab kita hidup dalam bayang-bayang kepura-puraan dan hanya mengikuti arus
yang kita harapkan untuk mempertahankan hidup sementara saat ini.
Ajakan Sabda Tuhan hari ini mendesak
kita untuk berani bersikap tegas mengakui bahwa hanya Tuhan sajalah yang
menjadi jaminan hidup kita dan segala ciptaan-Nya yang lain di dalam semesta alam
ini. “Kesejatian” iman kita tidak diukur dan dinilai dari berapa banyak jabatan,
prestasi di mata manusia, melainkan relasi intim dalam penghayatan iman yang
terus bertumbuh di dalam situasi-situasi sulit dan menantang,
pengalaman-pengalaman iman akan Allah yang terus berpihak kepada kita di dalam
suasana hidup tanpa harapan. Tanpa pengalaman iman pribadi semacam itu, sulit
dipikirkan akan adanya sebuah komitmen yang menghadirkan Allah sekaligus
menjadikan Dia sebagai landasan hidup kita. Melalui pengalaman iman yang sangat
pribadi itulah, maka Paulus menasihati kita bahwa jika kita hidup untuk Tuhan,
maka kita pun akan mati untuk Tuhan.
Wanita dengan 7 putra Makabe menjadi martir
Penghayatan iman yang kokoh itu
diwartakan oleh penulis suci kitab Makabe hari ini. Seorang ibu Bersama ketujuh
anaknya ditangkap, disiksa, dianiaya, bahkan dibunuh karena mereka berani
menolak paksaan untuk makan daging babi haram. Jawaban-jawaban dan sikap
yang mereka tunjukkan merupakan ungkapan komitmen iman mereka yang tidak dapat
diragukan lagi. Iman mereka kokoh, Tangguh, kuat tidak tergoyahkan. Mereka memilih
bersedia mati, daripada harus melanggar hukum Tuhan yang telah diwariskan oleh
nenek moyangnya. Mereka tahu dan sadar bahwa mati di hadapan raja dan para algojonya
akan menghantar mereka kepada kehidupan kekal bersama Allah, sebab mereka setia
untuk hidup sesuai hukum-hukum-Nya.
Pesan untuk kita, janganlah takut hidup
benar dalam iman akan Kistus yang bangkit. Mari kita berusaha untuk selalu
menghayati hukum Kasih-Nya sebagai pegangan dan norma hidup kita. “Kita
tidak menghindari kematian tetapi sesungguhnya kita menyambut dengan gembira,” kata
Paus Fransiskus.
Kita hidup hanya sementara di dunia ini
dengan segala kisahnya. Janganlah kita takut mati demi kebenaran iman, sebab
Tuhan yang kita Imani adalah Tuhan orang-orang hidup, bukan Tuhan orang mati.
Takutlah mati karena kepalsuan dan kepura-puraan iman kita.
Tuhan memberkati kita semua orang
beriman!
Salam dan berkat,
Pastor Paroki EKUKARDO,
P. Kris Sambu, SVD
Komentar
Posting Komentar