SELESAILAH SUDAH
PERINGATAN WAFAT TUHAN
HARI JUMAT AGUNG, 15 APRIL 2022
Yes. 52:13-53;12; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42
SELESAILAH SUDAH
Misi Yesus di tengah dunia sudah
selesai. Tidak mudah untuk menyelesaikan tugas perutusan itu. Pengorbanan
rohani jasmani, jiwa dan raga telah terjadi. Berbagai bentuk penghinaan dan
penolakan serta penganiayaan telah terjadi. Bahkan sampai wafat-Nya yang dipertontonkan
seperti seorang penjahat. Mengapa semuanya itu terjadi? Jawabannya adalah karena
kedurhakaan manusia (kita); karena dosa dan ketegaran hati manusia (kita);
karena kejahatan dan kebejatan manusia (kita); karena manusia (kita) egois,
cinta diri, nafsu serakah yang tidak terkendali, karena manusia (kita) mau
menjadi Tuhan atas diri sendiri. Akhirnya Tuhan Yesus menjadi tumbal untuk
semuanya itu.
Apakah dengan semuanya itu Yesus
kalah?
Tidak! Yesus tidak kalah. Yesus menang. Yesus menang karena kesetiaan dan ketaatan yang total kepada kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Atas dasar kesetiaan dan ketaatan inilah maka Yeus dijadikan sebagai IMAM dan KORBAN paripurna sekaligus. Dengan demikian Yesus menjadi sumber kehhidupan dan keselamatan bagi semua orang. Inilah yang dilukiskan di dalam surat Ibrani.
Sebagaimana bagi banyak orang salib dipandang sebagai kehinaan dan aib, tidaklah demikian bagi Yesus. Bagi Yesus justru inilah jalan yang membuka kemenangan jaya menuju Bapa-Nya. Sebagaimana digambarkan oleh Penginjil Yohanes, perjalanan penderitaan salib yang dilakonkan oleh Yesus merupakan bagian penutup sebuah proses, yang sudah dimulai pada kedatangan-Nya di dunia (Yoh.3:17-19). Yesus tahu dengan sadar bahwa Ia harus menyongsong saat keamtian-Nya. Dengan wafat-Nya, Yesus telah melaksanakan rencana, sebagaimana dinubuatkan di dalam Kitab Suci dan oleh kehendak Bapa-Nya. Maka dari atas salib itu Yesus berseru kepada Bapa-Nya sambil meneyrahkan Roh-Nya, “Selesailah sudah.”
Melalui jalan salib inilah, Yesus
telah diperkenalkan sebagai ‘Manusia’ dan ‘Raja’. Yesus justru sendiri
menegaskan diri-Nya sebagai hakim atas dunia secara adil, Ketika diri-Nya bagaikan
Anak Domba yang disembelih. Di atas tiang kayu di atas bukit Golgotha, Yesus
digantung, di Golgotha inilah telah berubah menjadi Firdaus baru, di mana Adam
Baru menyerahkan nyawa-Nya, sebab di taman Firdaus lama dan Adam pertama telah
melakukan dosa dan kejahatan. Dunia lama telah ditebus. Dunia baru bercahaya di
dalam Roh dan Kebenaran, di sini Yesus menyerahkan Roh-Nya.
Yesus memberikan Roh-Nya setelah
menunjuk Hawa Baru di dalam diri Bunda Maria, menjadi Bunda semua kaum beriman.
Hawa pertama telah dikuasai iblis dengan segala tipu muslihatnya; Hawa Baru telah menunjukkan
kesetiaan iman untuk menyertai puteranya sampai di kaki salib. Atas kesetiaan
inilah, Tuhan telah menjadikan dia (Maria – Hawa Baru) menjadi Bunda Gereja,
Bunda orang beriman yang tersimbol di dalam diri rasul yang dikasihi Yesus (Yohanes).
Dari dalam lambung kudus Yesus telah
mengalirlah air dan darah yang menyucikan dan mengembalikan kesucian diri
manusia berdosa; dan Roh-Nya telah meneguhkan hasil Paskah baru (1Yoh.5:7).
Dalam kebangkitan Yesus, setan telah diukul mundur dan dibuang keluar. Firdaus baru
telah terbuka lagi bagi manusia bertobat, seperti dikatakan penjahat tersalib
itu, “Yesus, Ingatlah aku bila Engkau memasuki kerajaan-Mu!” Bagi Yesus tidak
ada yang mustahil, sehingga sekalipun sudah pada masa injuri time bagi
penjahat yang bertobat itu Yesus memberikan jaminan, “Sungguh, Hari ini
engkau akan Bersama-Ku di Firdaus.”
Pada permenungan kita hari ini
kiranya kita belajar:
1.
Kesetiaan dan ketaatan Yesus telah menghasil buah keselamatan
bagi dunia (manusia) yang bertobat. Setiap pekerjaan yang dilakukan
dengan setia dan patuh akan memberikan hasil yang menggembirakan. Buah iman
kita akan memberikan kita jaminan keselamatan di akhirat nanti.
2.
Karena iman seringkali
mendatangkan tantangan dan cobaan. Bertekunlah sampai selesai. Di ujung
perjalanan dan perjuangan itulah hasil akan dipetik, bukan pada pertengahan
perjalanan.
3.
Kesetiaan dan ketaatan iman yang tulus dapat mengubah wajah
dunia.
Bunda Maria telah melakukan itu. Wajah bumi yang kotor dan najis oleh ulah Hawa
di taman Eden, telah diubah menjadi sebuah taman sukacita yang menyelamatkan
Bunda Maria menjadi Bunda kaum beriman.
4.
Tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Penjahat di salib telah
mengajarkan kita untuk jangan takut ditolak oleh Tuhan sekalipun besar dos
akita. Bertobatlah setiap saat, sebab keselamatan selalu terjadi pada waktu
yang tepat. “Sungguh, hari ini juga engkau aka nada Bersama-Ku di Firdaus.”
5.
Buah pengabdian mendatangkan rahmat bagi sesame. Setiap pengorbanan dan
pemberian diri, hati, harta, waktu dan tenaga yang tulus akan mendatangkan
rhmat kebahagiaan bagi sesame dan dunia semesta.
Marilah kita membangkitkan
semangat iman yang tulus dan pengharapan yang tidak berujung, dan cinta kasih
yang tidak pernah padam.
Amin.
Komentar
Posting Komentar