KEMERDEKAAN SEJATI ADA DI DALAM KRISTUS
Renungan Hari Rabu, 06 April 2022
Hari Biasa Pekan V Pra-paskah
Dan. 3:14-20.24-25.28; Yoh.8:31-42
Kemerdekaan adalah hak semua orang untuk tidak ditindas, diintervensi, dimanipulasi; orang ingin berada di dalam suasana tanpa diatur oleh orang lain, mendapatkan hak-hak yang menjadi miliknya, dapat mengeluarkan pendapat, berekspresi apa adanya, dan seterusnya. Akan tetapi, dengan mendapatkan hal-hal itu, benarkah seseorang sudah merdeka? Sudah bebas? Barangkali kemerdekaan yang dirumuskan oleh manusia dengan segala situasi sosialnya, boleh. Dapat dikatakan dia merdeka! Akan tetapi di dalam perspektif iman, kemerdekaan seorang beriman bukan terletak pada hak-hak manusiawi dan duniawi itu, melainkan pada ketaatanya kepada kehendak Allah. Sebab di dalam Allah ada kemerdekaan yang sejati.
Kisah ketiga pemuda di dalam tanur api dari bacaan pertama hari ini menurut nubuat Nabi Daniel, menunjukkan kesetiaan iman yang sempurna dan dengan itu pantaslah jika mereka mengalami kemerdekaannya. Sebab raja Nebudkanezar yang pada mulanya berpikir dia adalah pemegang hajat hidup seorang manusia, kini dia harus mengakui Allah yang diimani oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Tuhan telah berjalan bersama mereka di dalam situasi hukuman dan penderitaan mereka, sehingga mereka pun bebas dari sengatan api yang menyala-nyala. Betapa mengejutkan raja Nebudkanezar, sebab ada Malaekat yang telah bersama ketiga pemuda itu. Inilah iman mereka yang memerdekakan. Mereka dibebaskan dari segala bentuk siksaan duniawi sebab Allah yang mereka percaya jauh lebih berkuasa daripada raja-raja dunia.
Yesus di dalam injil hari ini menggarisbawahi iman yang telah diyakini oleh ketiga pemuda di dalam kitab Daniel tadi. Yesus ingin agar orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh-sungguh beriman kepada Allah Bapa yang telah mengutus-Nya. Yesus hendak menanamkan sebuah spiritualitas yang benar di dalam diri mereka bahwa melalui Dia, Allah telah memberikan segala kuasa untuk membebaskan dan memerdekakan semua orang percaya. Sehingga Yesus berkata, "Apabila Putera memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."
Kemerdekaan yang diterima oleh seorang beriman barangkali agak paradoks ketika disandingkan dengan kenyataan dunia. Seperti ketiga pemuda di dalam tanur api itu, mereka ingin menghayati imannya seturut kepercayaannya, namun raja memaksa mereka untuk mengikuti kehendaknya jika ingin bahagia. Kebahagiaan yang disediakan raja sifatnya sementara dan tidak kekal, sedangkan kebahagiaan yang datang dari Allah adalah abadi selamanya. Demikian Yesus menegaskan bahwa karena iman kepada-Nya seseorang akan disiksa, dianiaya, ditolak bahkan dibunuh seperti diri-Nya sendiri, namun jika mampu melewati semuanya dalam kesetiaan iman, maka kebahagiaan sejati sudah menanti. Yesus menderita, ditolak, disiksa, dianiaya, disalibkan dan dibunuh, namun kebangkitan-Nya telah mengalahkan dosa dan maut yang membelenggu manusia, dan Dia memerdekakan siapapun yang percaya kepada-Nya.
Masa pra-paskah menjadi saat rahmat untuk kita kembali membaharui iman kita. Mungkin selama ini kita mudah goyah dan ingin bebas di luar rahmat Tuhan; maka saat ini adalah waktunya untuk kita kembali ke dalam rangkulan Allah yang memerdekakan seutuhnya.
Marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar memampukan kita menghayati Sabda-Nya dengan baik di dalam hidup sehari-hari.
Salam dan berkat,
Pastor Proki EKUKARDO,
P. Kris Sambu, SVD
Amin....maksh tuk renunganx, ptr...
BalasHapusAmin, makasih renunganya kk pater. Semoga sehat selalu.
BalasHapus