LAKUKANLAH SEMUANYA ITU DENGAN SETIA
Renungan Hari Sabtu, 12 Maret 2022
Hari Biasa Pekan I Pra-Paskah
Ul. 26:16-19; Mat. 5:43-48
Musa melanjutkan amanat dari Tuhan kepada bangsa Israel. Sebelum mereka memasuki tanah terjanji Tuhan ingin memperbaharui janji setia bangsa pilihan itu dengan diri-Nya. Mereka menjadi bangsa pilihan dan kecintaan-Nya, dan Dia menjadi Tuhan, Allah mereka. Perjanjian itu berisikan "kesetiaan" yang harus ditepati oleh bangsa Israel dengan menaati segala perintah Tuhan dan menghayatinya di dalam hidup mereka dengan baik. Dari pihak Allah, Ia menjadi Tuhan, Allah mereka dan dengan setia menyayangi mereka sebagai bangsa pilihan. "Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa seperti telah dijanjikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama, terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya."
Perjanjian Kesetiaan Allah dan Bangsa IsraelSejak dibaptis, sesungguhnya semua orang beriman sudah melakukan 'perjanjian' dengan Tuhan untuk percaya, setia kepada-Nya dan kepada perintah-perintah-Nya. Namun seperti bangsa Israel yang sekian sering menyimpang dari perjanjian setia itu, orang kristiani juga melakukan hal serupa dengan melakukan banyak dosa, pelanggaran dan ketidaksetiaan. Oleh sebab itu, dalam masa tobat ini merupakan momentum tepat untuk kembali membaharui janji kesetiaan itu.
Di dalam injil hari ini Yesus lebih memperjelas bagaimana seorang beriman (murid Tuhan) melakukan dan menghayati janji kesetiaan itu. Seperti Allah yang setia mengasihi manusia, demikian pula manusia harus mampu mengasihi sesamanya. Sebagai seorang murid Tuhan harus mampu berbuat lebih, yakni dengan melakukan hal yang bagi bukan murid Tuhan merasa aneh dan tidak mungkin. Hukum atau perintah itu adalah mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang telah menyakiti, menyebabkan kita menderita sakit dan tidak berdaya. Sebab menurut Yesus, jika kita tidak berbuat lebih seperti itu, tidak ada bedanya dengan orang berdosa, para pemungut cukai yang dapat melakukan hal-hal serupa itu. Sesungguhnya perintah Yesus itu tidak lain dari teladan tindakan Allah sendiri yang mengasihi manusia tanpa membeda-bedakan, dengan memberi matahari dan hujan kepada orang benar maupun orang yang tidak benar, kepada orang baik maupun kepada orang jahat. Jika Allah yang begitu baik tidak diindahkan (manusia tidak bertobat), maka sebetulnya itulah kesalahan manusia sendiri yang menolak rahmat keselamatan dari Allah.
Dalam masa pra-paskah ini kita semua diajak untuk menelisik kembali jejak-jejak kehidupan kita serta janji-janji kesetiaan kita kepada Allah dan sesama. Jika kita menemukan penyimpangan dan ketidaksetiaan itu, maka sudah sepantasnya kita harus bertobat dan berbalik kepada jalan Allah, jalan keselamatan itu.
Marilah kita memohon rahmat pertobatan dan kerendahan hati dari Roh Kudus agar memampukan kita menghayati pesan Sabda-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari dengan baik dan benar.
Salam dan berkat,
Pastor Paroki EKUKARDO,
P. Kris Sambu, SVD
Amin,,,,makasih renunganya kk pater salam sehat,
BalasHapus