KOYAKANLAH HATIMU DAN JANGAN PAKAIANMU

 Renungan Hari Rabu, 02 Maret 2022

HARI  RABU  ABU (U) : PUASA DAN PANTANG

Yoel 2:12-18;  2Kor. 5:20 - 6:2;  Mat. 6:1-6.16-18


Sebuah momentum refleksi tentang hidup terulang lagi. Hidup yang bermakna, hidup yang berkualitas, hidup yang memiliki tujuan akhir abadi. Pada titik inilah kita perlu bertanya, "Siapakah aku ini, sehingga Tuhan memperhatikan aku?" Pertanyaan ini sesugguhnya bertolak dari kesadaran diri yang tinggi bahwa kita ini hanya "debu tanah". Debu tanah yang menjadi bahan dasar dari mana kita diciptakan. Hal yang menunjukkan kerapuhan dan kelemahan kita. Namun dari debu tanah yang tercipta itu, Tuhan telah menghembuskan 'Ruh', nafas kehidupan ke dalamnya. Maka jadilah dia yang disebut manusia yang hidup, makhluk hidup. Oleh sebab itu pada Hari Rabu ABU seorang beriman katolik hendak merefleksikan dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang lemah, yang sering kali jatuh di dalam dosa dan kembali membangun sikap tobat yang benar. "Kita berasal dari debu tanah, dan akan kembali ke tanah." Kata-kata serupa sering diucapkan ketika seseorang meninggal, di kuburnya ditaburkan tanah utuk mengingatkan kefanaan ini. Namun di sisi lain, kelemahan kita telah diberi rahmat penebusan ilahi oleh nafas kehidupan Allah sendiri. Maka kita menjadi makhluk ciptaan yang sangat istimewa dari semua makhluk yang telah diciptakan-Nya.

Merenungkan keberadaan hidup kita sebagai manusia beriman yang masih dalam kelemahan mnusiawi ini, Nabi Yoel mengajakn kita untuk sungguh-sungguh bertobat dari lubuk hati yang terdalam, bukan hanya hal-hal artifisia. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia." Yoel ingatkan kita bahwa tobat yang sejati harus keluar dari dalam hati, sebab hati adalah pusat kehidupan dan keberadaan manusia yang sesungguhnya. Sedangkan pakaian hanyalah aksesori luar saja. Pakaian menjadi simbol kemunafikan ketika orang menutupi kesombongan dan keangkuhan dirinya. Pakaian hanya bungkusan orang menutupi kelemahan dirinya. Oleh sebab itu, Yoel meminta untuk bertobat dengan tindakan-tindakan nyata.

Apa yang diserukan oleh nabi Yoel dipertegas oleh Penginjil Mateus untuk melakukan tobat itu dengan hal-hal konkrit: PUASA, AMAL dan DOA. BerPUASA menjadi tanda seorang beriman berbela rasa dengan mereka yang tidak mendapat makanan. BerAMAL atau bersedekah untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama dalam bentuk pemberian sesederhana apapun, asal diberi dengan hati tulus. BerDOA adalah wujud syukur,pujian dan sembah bakti kepada Allah sumber segalanya. Ketiga hal ini diminta oleh Yesus kepada kita para murid-Nya untuk melakukannya dengan tersembunyi. Tujuannya jelas yakni bukan utuk mendapat puji-pujian dari manusia, tetapi sebagai ungkapan iman akan Tuhan yang hidup dan sedang berkarya. Maka DIA yang tersembunyi akan membalaskannya kepada mereka yang melakukannya dengan penuh iman.

Marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar memampukan kita menghayati Sabda Tuhan ini dan melakukan ibadat tobat kita ini dengan hati yang tulus ikhlas.


Salam dan berkat,

Pastor Paroki EKUKARDO,

P. Kris Sambu, SVD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDUSKANLAH HARI TUHAN

KASIH ALLAH MELAMPAUI SEGALA SESUATU

KRISTUS CAHAYA DUNIA